Posted by: Andi Arsana | June 1, 2009

Ambalat, sekali lagi

ambalat

Ilustrasi Ambalat di Laut Sulawesi

Silakan baca selengkapnya di sini.

Baca juga ini dan lihat animasi presentasi di sini


Responses

  1. […] duduk perkaranya di sini. Saya sudah mencurahkan energi saya untuk membahasnya di Antara. Satu makalah populer juga sudah saya dedikasikan untuk banyak […]

  2. Kira-kira kalau ditarik garis tengah dengan acuan titik-titik terluar yang ada di Indonesia dan malaysia (misal dari titik yang ada dipulau Sebatik dan karang unarang bagi Indonesia, dan titik luar punya Malaysia ), valid tidak? krn terlihat disini garis pangkalnya menurun sekali memotong ambalat

    • Helo Sdr. Rizal

      Garis tengah menggunakan basline kepulauan Indonesia dan baseline normal MY adalah salah satu opsi. Meski demikian, hasil finalnya sangat tergantung dari negosiasi keduanya. Meski secara jarak akan terkesan ‘adil’ belum tentu INA atau MY menerimanya sebagai solusi yang adil. Dalam UNCLOS tidak disebutkan metode delimitasi (untuk ZEE dan LK), hanya disebutkan istilah ‘equitable solution’. (pasal 74 dan 83).

  3. “Padahal berdasarkan UNCLOS Malaysia adalah bukan negara kepulauan dan tidak berhak menarik garis pangkal dari titik-titik terluar pulau-pulau terluar sebagaimana dimiliki negara kepulauan seperti Indonesia”

    statement seperti di atas selalu ditemui. Pertanyaan, jika Malaysia dikatakan tidak berhak, mohon ditunjukan pada artikel (UNCLOS)mana ianya dirujuk? Terima kasih

    • Sesuai dengan pasal 47 dari Unclos 82, memang hanya negara kepulauan yang berhak atas penarikan garis pangkal lurus kepulauan atau menarik garis lurus dari titik terluar pulaunya ke pulau terluar lainnya. Sedangkan pasal 46 menunjukan tentang definisi negara kepulauan, dan Indonesia memang termasuk negara kepulauan karena terdiri dari pulau-pulau terpisah yang dihubungkan oleh perairan laut. Selain itu, sebuah negara disebut kepulauan jika rasio antara air: darat adalah 1:1 hingga 9:1 (pasal 47 ayat1), Indonesia adalah negara kepulauan karena rasio air=3,2 juta km persegi, daratan= 1,9 juta km persegi.

      Kalau Malaysia? sesuai dengan topografi wilayah dan rasio air, sepertinya memang tidak cocok sebagai negara kepulauan, karena fisiknya tidak berbentuk kepulauan juga karena luas daratannya lebih luas dari luas perairannya, di Cia Factsheet luas daratannya adalah seluas 328.550 km persegi dengan luas laut hanya 1200 km persegi, sangat tidak mungkin disebut sebagai negara kepulauan. karena itu malaysia lebih cocok disebut sebagai negara kontinental, dan sesuai Unclos bahwa negara pantai yang tidak berbentuk kepulauan tidak dapat menerapkan metode penerapan garis pangkal lurus kepulauan atau menarik garis lurus dari titik pulau terluar ke pulau terluar lainnya seperti yang diatur dalam pasal 47.

      • Thanks atas penjelasan dari Sdr. Rini atas pertanyaan Sdr. Asri. Betul demikian adanya. Saya ingin tambahkan sedikit untuk bagian akhir tentang penarikan garis pangkal lurus. Kalau soal gp kepulauan, Malaysia sdh jelas tidak bisa. Namun demikian, penarikan garis pangkal lurus mneggunakan aturan yang berbeda. Ini diatur dalam pasal 7 UNCLOS.

        Penarikan garis pangkal lurus diijinkan jika ada pulau tepi (tebaran pulau) di sekitar daratan utama, jika bentuk pantai tidak teratur dan ‘deeply cut into’ atau jika deltanya tidak stabil. Pandangan ini tentu tidak serta merta untuk mengatakan MY boleh menarik gp lurus tetapi untuk memberi gambaran bahwa ada alasan lain bagi suatu negara untuk menarik gp lurus. Apakah MY berhak untuk ini, tentu harus ada pembuktian sesuai pasal 7 tersebut.

        Selain itu, klaim maritim (teritorial sea, zona tambahan, zee, lk) juga bisa diukur dari sebuah pulau. Setidaknya secara teoritis, Sipadan dan Ligitan bisa mengklaim kawasan laut. Sampai di mana klaim ini bisa dilakukan, harus dikaji teknis dan legalnya.

  4. mas andi, saya membaca dari jurnal geologi bahwa Ambalat merupakan sambungan alami dari cekungan tarakan, kebetulan copy majalahnya ada disini. Setahu saya Malaysia selalu mendasarkan klaimnya berdasarkan landas kontinen sipadan-ligitan, kalau kita gunakan hasil penelitian PPGL ini, kira-kira bisa tidak jadi dsar untuk klaim ambalat, bagaiman pendapat mas dalam hal ini?

    mengenai karang unarang sebagai titik pangkal, saya juga baca di Unclos bahwa titik pangkal hanya boleh kalau wilayahnya menyembul dilaut saat laut surut, saya membaca di majalah karang itu tenggelam pada saat surut, emang dibolehin yang seperti itu mas, membuat karang unarang sebagai LTE padahal dianya tenggelam??? atau adakah pengartian pasal UNCLOS yang memperbolehkan hal seperti itu??

    • Helo Rini,
      Re: Ambalat
      Landas kontinen memang adalah kelanjutan alamiah (sambungan alami) dari daratan, hingga sisi terluar tepiian kontinen (continental margin), seperti dijelaskan pasal 76 UNCLOS. Namun perlu diingat juga, jika tepian kontinennya tidak melebihi 200 mil laut dari garis pangkal, maka negara ybs tetap berhak atas 200 mil laut LK. Hal ini melahirkan suatu pemahaman bersama bahwa hak minimal LK bagi suatu negara pantai adalah 200 mil laut, tentu saja jika tidak terjadi tumpang tindih klaim dg negara lain. Hal ini juga yang kemudian menciptakan praktik baru dalam delimitasi LK yaitu jika jarak 2 negara kurang dari 400 mil laut maka profil dasar laut (terkait kelanjutan alamiah, geologi, geomorfologi) menjadi tidak signifikan diperhitungkan. Dalam kasus ini, jarak yang akhirnya menjadi dasar pertimbangan.

      Re: Karang Unarang
      Saya sendiri tidak memiliki data teknis Karang Unarang sehingga tidak bisa berkomentar banyak. Namun begitu, jika kita bicara legal, maka kita bicara dokumen. Dlm pasal 5 UNCLOS misalnya dijelaskan, yang dimaksud garis pangkal normal adalah garis pantai saat air surut yg nampak pada peta resmi yg diakui negara ybs. Saya yakin dalam hal ini penentuan LTE juga menganut logika yang sama. Pertanyaannya, dari mana informasi bahwa Karang Unarang tenggelam itu Anda ambil?

      • infonya saya baca dari majalah tempo tahun 2005, mas. Waktu ribut ambalat yang pertama kali itu

  5. Setelah menyimak tulisan Bapak, izinkan saya memberikan beberapa masukan & mungkin koreksi:

    1) Dalam paham saya, Gambar 3 berkontradiksi dengan Gambar 4.
    Posisi ND-6 & ND-7 bila diproyeksikan ke Gambar 4, tidak termasuk ke dalam cakupan Ambalat yg dimaksud Pak Made. Pak Made mungkin menganggap bahwa Ambalat adalah sekedar blok kecil bernomor 3 pada Gambar 3. Padahal, jelas bahwa ND-6 & ND-7, dll, termasuk dalam apa yg disebut selama ini sebagai Ambalat, dan inilah yang dipermasalahkan selama ini. Terdapat banyak blok kecil dalam apa yg disebut Ambalat ini, dan kebetulan salah satunya memang bernama Ambalat, namun bukan berarti apa yg disebut-sebut sebagai Ambalat selama ini terbatas pada blok kecil itu saja. ND-6 & ND-7 jelas termasuk dalam apa yg dimaksud sebagai Ambalat selama ini.

    2) Pada halaman 3 alinea terakhir, tertulis sbb:

    “Terkait dengan berita kapal perang Malaysia yang memasuki perairan Ambalat, hal ini harus dibuktikan terlebih dahulu secara spasial. Suatu berita menegaskan bahwa kapal perang Malaysia berada pada koordinat 4° 0’0.00″ lintang utara dan 118° 9’0.00″ bujur timur.5 Jika benar posisi ini maka kapal tersebut berada relatif di utara, tidak di kawasan Ambalat.”

    4° 0’0.00″ itu justru lebih selatan daripada garis 4°10′ karena ini lintang utara. Semakin kecil angkanya justru semakin ke selatan & semakin dekat ke equator, bukan sebaliknya.
    Atau mungkin maksud Pak Made, 4° 0’0.00″ ini masih lebih utara daripada blok kecil yg kebetulan juga bernama Ambalat itu? Bila itu yg dimaksud, mungkin benar saja posisi kapal Malaysia itu tidak berada di blok “Ambalat”, tapi berada di ND-6 atau ND-7 maupun blok lainnya di dalam apa yg disebut sebagai kawasan Ambalat itu. Yang jelas, posisi ini di selatan daripada 4°10′ yg dalam banyak peta internasional dinyatakan sebagai garis batas antara Indonesia & Malaysia sebagai kelanjutan dari garis batas daratan di Sebatik (garis ini dinyatakan tegas dalam banyak peta internasional, termasuk Google Earth, bukan dengan maksud menjadikan Google Earth sebagai acuan ilmiah, namun sekedar sebagai sebuah fakta saja).

    • Terima kasih atas masukannya atas peper saya tentang Ambalat.
      Seperti yang saya sampaikan di makalah tersebut, sangat mungkin ada
      perbedaan persepsi ataupun ketidakakuratan informasi sehingga tidak
      disarankan untuk dikutip. Masukan Bapak akan menyempurnakannya.

      Berikut tanggapan saya.

      Kenyataannya memang terjadi silang pendapat soal ini dan seperti yang
      saya sampaikan, Ambalat yang saya maksud adalah yg dalam blok ‘kecil’
      dan merupakan sengketa karena berada pada zona tumpang tindih.
      Sementara itu, pada zona lain sudah terjadi eksplorasi masing2
      sehingga secara tidak langsung mengindikasikan pengakuan, meskipun
      dari segi hukum laut, ketegasan ini tetap belum ada.

      Jika dipahami seperti yang Bapak sampaikan, tentunya analisisnya
      menjadi berbeda. Sekali lagi, asumsi terhadap Ambalat berbeda.

      > 2) Pada halaman 3 alinea terakhir, tertulis sbb:
      > 4° 0’0.00″ itu justru lebih selatan daripada garis 4°10′ karena ini lintang utara. Semakin kecil angkanya justru semakin ke selatan & semakin dekat ke equator, bukan sebaliknya.

      Terima kasih atas komentar ini :))
      Saya tentu paham bahwa 4 derajat LU itu lebih di selatan dibandingkan
      4 derajat sepuluh menit LU :-)) Sekedar informasi, latar belakang saya
      geospasial, bukan hukum Pak🙂

      > Atau mungkin maksud Pak Made, 4° 0’0.00″ ini masih lebih utara daripada blok kecil yg kebetulan juga bernama Ambalat itu?

      Betul. Ini yang saya maksud!

      >Bila itu yg dimaksud, mungkin benar saja posisi kapal Malaysia itu tidak berada di blok “Ambalat”, tapi berada di ND-6 atau ND-7 maupun blok lainnya di dalam apa yg disebut sebagai kawasan Ambalat itu.

      Saya kira ini bisa dikembalikan ke diskusi kita di atas. Betul, saya
      setuju adanya perbedaan pemahaman di sini. Inilah yang menimbulkan
      keluarnya analisis yang berbeda. Namun begitu, saya tegaskan perbedaan
      ini tidak terjadi karena saya tidak bisa membedakan lintang 4 derajat
      dengan 4 derajat 10 menit :-))

      >Yang jelas, posisi ini di selatan daripada 4°10′ yg dalam banyak peta internasional dinyatakan sebagai garis batas antara Indonesia & Malaysia sebagai kelanjutan dari garis batas daratan di Sebatik (garis ini dinyatakan tegas dalam banyak peta internasional, termasuk Google Earth, bukan dengan maksud menjadikan Google Earth sebagai acuan ilmiah, namun sekedar sebagai sebuah fakta saja).

      Terima kasih atas analisis menarik ini.
      Saya sebagai orang Indonesia, secara naluri menyambut positif fenomena
      ini. Namun demikian, dalam keputusan ICJ (Sipadan dan Ligitan) secara
      eksplisit dikatakan bahwa garis pada lintang 4 derajat 10 menit ini
      tidak bisa ‘diteruskan’ ke timur dan menjadi batas maritim karena
      tidak ada dasar hukumnya.

      Saya mendapat banyak pelajaran dari diskusi ini dan memang harus ada
      kesepakatan tentang wilayah sengketa secara geospasial. Tulisan saya
      bersifat normatif dan terbuka untuk didebat.

  6. 1) Saya rasa, perlu ada keseragaman tentang penggunaan istilah Ambalat ini. Dalam pembicaraan populer di masyarakat, serta juga di media massa bahkan Pemerintah, tentunya Pak Andi sendiri mengetahui bahwa istilah Ambalat ini digunakan untuk menyebut blok no.12, 13, 14, 15 & 16 dalam peta ini : http://www.tempo.co.id/hg/img/ambalat/ambalat.jpg
    Blok no.12 adalah Bukat, 13 adalah Ambalat, 14 adalah Ambalat Timur, 15 adalah ND-6, dan 17 adalah ND-7.
    Jadi, persepsi ini perlu disamakan dulu. Dalam tulisan Bapak tsb, alangkah baiknya dijelaskan bahwa “Ambalat” yang Bapak maksud adalah
    dibatasi hanya kepada blok no.13 tsb di atas (blok yang memang bernama Ambalat, despite kenyataan bahwa masih ada blok lebih besar bernama Ambalat Timur), dan perlu dijelaskan pula bahwa ini berbeda dengan persepsi umum, yg digunakan media, masyarakat & Pemerintah (Pemerintah dalam pernyataan di berbagai media juga menyebut Ambalat dalam pengertian mencakupi Bukat, Ambalat, Ambalat Timur, ND-6 & ND-7).

    2) Yang saya khawatirkan adalah, sekiranya “Ambalat” hanya dibatasi pada blok no.13, maka apabila kapal perang Malaysia memasuki blok 12 (Bukat), blok 14 (Ambalat Timur), maupun blok lainnya, tidak akan dianggap sebagai masalah. Terutama blok 12 (Bukat) tentunya dekat (atau malah mungkin sudah beririsan langsung) dengan garis pangkal
    kita di sana, dan blok Bukat ini sudah dieksplorasi sejak lama. Lebih parah lagi, seandainya kapal perang Malaysia masuk ke blok 11 (Nunukan) pun ada kemungkinan akan dibiarkan saja apabila yg dipermasalahkan hanya blok “Ambalat” kecil yang bernomor 13 itu. Jadi,
    keseragaman dalam memandang masalah ini sangat diperlukan. Saya pribadi dalam berbagai tulisan juga menggunakan istilah “Ambalat”
    untuk merefer kepada semua blok 12-16 tsb di atas.

    • Pak Khairil Azmi,

      Terima kasih atas tanggapan yang menarik.

      Saya setuju dg point-point yang Bapak sampaikan. Masukan ini akan saya
      sertakan dalam paper saya. Paper ini memang bersifat discussion paper
      yang tidak dipublikasikan di reviewed jurnal sehingga ‘open ended’.
      Masukan dari Bapak akan memperbaiki informasi di dalamnya.

      Sementara itu, tulisan saya di media massa saya kira lebih bersifat
      normatif dan analisis spasial sehingga semestinya (semoga) tidak
      menimbulkan kontroversi.

      Salam hangat
      Andi

  7. 1) Gambar 3 berkontradiksi dengan Gambar 4.
    Posisi ND-6 & ND-7 bila diproyeksikan ke Gambar 4, tidak termasuk ke dalam cakupan Ambalat yg dimaksud Pak Made. Pak Made menganggap bahwa Ambalat adalah sekedar blok kecil bernomor 3 pada Gambar 3. Padahal, jelas bahwa ND-6 & ND-7, dll, termasuk dalam apa yg disebut selama ini sebagai Ambalat, dan inilah yang dipermasalahkan selama ini.

    2) Pada halaman 3 alinea terakhir, tertulis sbb:

    “Terkait dengan berita kapal perang Malaysia yang memasuki perairan Ambalat, hal ini harus dibuktikan terlebih dahulu secara spasial. Suatu berita menegaskan bahwa kapal perang Malaysia berada pada koordinat 4° 0’0.00″ lintang utara dan 118° 9’0.00″ bujur timur.5 Jika benar posisi ini maka kapal tersebut berada relatif di utara, tidak di kawasan Ambalat.”

    Aneh sekali kesimpulan pak made ini. 4° 0’0.00″ itu justru lebih selatan daripada garis 4°10′. Ingat, ini lintang utara. Semakin kecil angkanya justru semakin ke selatan & semakin dekat ke equator, bukan sebaliknya.

    • Pak Heri Dendi,

      Terima kasih atas komentar Bapak pada blog saya terkait tulisan tentang Ambalat.
      Menariknya, komentar yang sama persis pernah disampaikan oleh Bapak
      Khairil Azmi. Beliau sendiri mengakui ini adalah gagasannya. Menarik
      memang jika ada dua orang punya gagasan yang persis sama😀 Tapi
      ‘sebuah kebetulan’ pasti bisa terjadi di dunia ini🙂

      Bagi saya, memiliki pendapat itu sah dan berbeda pendapat itu satu
      keniscayaan. Saya belajar banyak dari diskusi ini dan sudah saya
      sampaikan dasar perbedaan pandangan ini ke Bapak Khairil. Yang
      semestinya tidak terjadi adalah adanya seseorang menggunakan pendapat
      orang lain dan mengklaimnya sebagai pendapatnya. Menurut saya ini
      sebuah pelanggaran atas kode etik ilmiah dan tata krama
      berargumentasi. Dalam pandangan saya, ini sama dengan pencurian yang
      tidak mengindahkan kehormatan diri. Saya yakin, di antara kita tidak
      ada yang seperti itu dan kesamaan pandangan dari Pak Khairil dan Pak
      Heri ini (termasuk susunan kalimat yang sama) hanyalah kebetulan saja
      (meskipun ini tetap membuat saya heran).

      Silahkan Bapak Baca diskusi di blog ini terkait posting ini. Jawaban saya ada di sana.

  8. kalo nulis tu jgn bikin malu ugm. Master kok nulisnya ada kesalahan seperti yang saya tulis di atas. Ke laut aja lo

    • Terima kasih atas komentar ini Pak Heri. Saya tidak merasa perlu
      menanggapi ini dengan serius🙂 karena bukan pertanyaan. Dari
      komentar ini memang terlihat kualitas intelektual dan kebijaksanaan
      Bapak. Sekali lagi, terima kasih.

  9. Saya muatkan jawapan sdr Kazmi http://www.tandef.net/google-earth-pun-mengakui-ambalat-milik-indonesia kepada soalan yg saya ajukan kepada beliau. mohon di beri komen keatas jawapan sdr kazmi seperti di bawah. terima kasih

    saya menemukan adanya kontradiksi & beberapa kesalahan dalam tulisan Pak Made ini:

    1) Gambar 3 berkontradiksi dengan Gambar 4.
    Posisi ND-6 & ND-7 bila diproyeksikan ke Gambar 4, tidak termasuk ke dalam cakupan Ambalat yg dimaksud Pak Made. Pak Made menganggap bahwa Ambalat adalah sekedar blok kecil bernomor 3 pada Gambar 3. Padahal, jelas bahwa ND-6 & ND-7, dll, termasuk dalam apa yg disebut selama ini sebagai Ambalat, dan inilah yang dipermasalahkan selama ini.

    2) Pada halaman 3 alinea terakhir, tertulis sbb:

    “Terkait dengan berita kapal perang Malaysia yang memasuki perairan Ambalat, hal ini harus dibuktikan terlebih dahulu secara spasial. Suatu berita menegaskan bahwa kapal perang Malaysia berada pada koordinat 4° 0’0.00″ lintang utara dan 118° 9’0.00″ bujur timur.5 Jika benar posisi ini maka kapal tersebut berada relatif di utara, tidak di kawasan Ambalat.”

    Aneh sekali kesimpulan beliau ini. 4° 0’0.00″ itu justru lebih selatan daripada garis 4°10′. Ingat, ini lintang utara. Semakin kecil angkanya justru semakin ke selatan & semakin dekat ke equator, bukan sebaliknya.

    • Sdr Asri, silakan lihat tanggapan saya dalam diskusi di thread sebelumnya🙂

  10. merujuk pada soalan saya pd Jun 3, 2009:
    Di atas jawapan Sdr. Rini dan sdr Andi berikan, saya ucapkan berbanyak terima kasih.

  11. Terimakasih Pak Andi atas tanggapannya baik via email maupun situs Bapak ini.

    Sangat disayangkan memang ada beberapa orang yg mencopy tanggapan saya kemana-mana tanpa merefer nama saya sebagai pemilik tanggapan tersebut Pak. Tapi demikianlah, itu mungkin indikasi bahwa situs Bapak & situs saya sama-sama banyak pengunjungnya hehehe. Mohon mafhum & maklumnya.

    Salam,
    Khairil Azmi

  12. Kepada Sdr.Asri,

    Sebagai orang Malaysia, tentunya ada baiknya Saudara menyimak kembali diskusi yg berjalan antara Pak Andi & saya sebagaimana tersebut di atas.

    Intinya, Pak Andi memang membatasi “Ambalat” hanya pada blok kecil yg kebetulan bernama Ambalat juga sebagaimana bisa dilihat pada peta di atas maupun pada peta Tempo ini: http://www.tempo.co.id/hg/img/ambalat/ambalat.jpg

    Namun, sudah kita ketahui bersama bahwa istilah Ambalat ini secara umum digunakan untuk menyebut blok no.12, 13, 14, 15 & 16 dalam peta tsb.
    Blok no.12 adalah Bukat, 13 adalah Ambalat, 14 adalah Ambalat Timur, 15 adalah ND-6, dan 17 adalah ND-7. Ini kesemuanya adalah Ambalat.

    Ini mirip dengan analogi Propinsi Bengkulu. Ibukota propinsi ini juga bernama Bengkulu, namun bukan berarti Bengkulu itu hanya terbatas pada ibukotanya yg kecil itu. Yang dinamakan Bengkulu secara makronya mencakup seluruh propinsi tsb.

    Jadi, persepsi ini perlu disamakan dulu. Kepada tulisan Bapak Andi tsb, saya memberikan saran alangkah baiknya dijelaskan bahwa “Ambalat” yang dimaksud Pak Andi dalam tulisan ini memang beliau batasi hanya pada blok kecil yg kebetulan bernama Ambalat juga. Namun, tidak dapat dinafikan, bahwa dalam pemberitaan di media massa serta pernyataan pemerintah & juga legislatif, yg dimaksud Ambalat itu adalah keseluruhan blok 12-16 tsb pada peta Tempo yg linknya saya cantumkan di atas.

  13. Kepada sdr kazmi.
    Haraf maaf kerana semasa menghantar posting itu diskusi anda dan sdr Andi masih tidak kelihatan di ruang response ini.

    Diskusi kalian sgt jelas dan memberi manfaat. terima kasih.

  14. sdr Andi,

    Saya merasakan sdr layak utk bercakap dalam soal ini kerana mempunyai kepakaran akademik yg tinggi.

    Jesturu, dapatkah saudara menyediakan sebuah Peta yg menunjukan klaim maritim (teritorial sea, zona tambahan, zee, lk dan tumpang tindih) kedua-dua negara yg HARUS terjadi menurut hukum UNCLOS secara teoritis.

    Terima kasih.

  15. Sdr kazmi,

    Waktu saya membuat response kepada sdr Andi semalam saya membuat semakan dan mendapati response anda belum kelihatan disini.
    Mungkin ada masalah teknikal yg terjadi ketika itu. harap maklum

    BTW, Cuma ada seorang shj yg memakai nama “heri dendi” mencopy tanggapan sdr tanpa merefer nama sdr di sini.

    terima kasih.

  16. dear pak andi. diskusi yang menarik.
    ditunggu revisi tulisan pdf nya..belum sempat donlot.

  17. dear pak andi. diskusi yang menarik.
    ditunggu revisi tulisan pdf nya..belum sempat donlot. terima kasih

  18. Deat pak andi ( namanya sama)
    Saya mau tanya ambalat itu pulau , daratan atau apa ?? soalnya saya punya data otentik sejak jaman belanda tahun 1933 ada bukti akte van eigendom ( sertifikat tanah kalau sekarang ) yang menyatakan ada Desa bernama Ambalat di Nunukan ( Desa Ambalat en Noenoekan Oosten Borneo ) kalau pak andi tahu itu dimana posisinya dimana ??? apa kemungkinan Ambalat yang sekarang ini dulunya adalah daratan atau pulau sampai jaman belanda 1933 kok ada bukti seperti itu ??? mohon informasinya dan mohon diemailkan ke alamat saya : andy.margana@gmail.com , nanti saya kasih data datanya terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: