Ketika Tembok Berlin runtuh tahun 1989, dunia diingatkan akan makna baru sebuah sekat atau batas. Kejadian ini seakan mengisyaratkan bahwa sekat tidak lagi diperlukan. Untuk pertama kalinya, istilah “borderless world”, dunia tanpa sekat, diperkenalkan (Ohmae, 1990). Fenomena ini diperkuat oleh gagasan globalisasi, perdagangan bebas dan sejenisnya. Dunia memang seperti tanpa sekat, pertukaran barang dan jasa terjadi begitu mudahnya. Benarkah batas wilayah menjadi tidak penting lagi?
Di sisi lain, ada fenomena yang bertolak belakang. Indonesia dan Malaysia, misalnya masih sering bermasalah dengan batas wilayah. Terjadinya ketegangan akibat kasus Ambalat, misalnya, adalah salah satu dampak sengketa batas wilayah. Belum disepakatinya batas maritim di Laut Sulawesi adalah salah satu penyebab ketegangan tersebut. Senada dengan itu, Thailand dan Kamboja juga mengalami ketegangan yang serius akibat sengketa di daerah perbatasan yang melibatkan candi kuno. Sengketa antara Thailand dan Kamboja juga sempat mengarah pada kontak fisik yang membahayakan jiwa.
Read More…